Bagi pasangan yang sama-sama bekerja, menggabungkan penghasilan bisa membuka pilihan rumah dengan harga yang lebih beragam. Sementara itu, mengandalkan satu penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dapat membantu pasangan merencanakan keuangan dengan lebih hati-hati, terutama jika salah satu penghasilan ingin dialokasikan untuk kebutuhan lain atau tabungan. 

Namun, tidak ada satu skema yang otomatis lebih baik untuk semua pasangan. Besarnya penghasilan, pengeluaran rutin, kestabilan pekerjaan, tanggungan keluarga, dan rencana hidup ke depan perlu dipertimbangkan bersama. 

Sebelum menentukan rumah yang ingin dibeli, yuk, pahami apa saja yang perlu diperhitungkan jika Anda dan pasangan berencana membeli rumah dengan satu atau dua penghasilan. 

1. Hitung Kemampuan Cicilan dari Penghasilan yang Benar-Benar Bisa Diandalkan 

Langkah pertama adalah mengetahui berapa penghasilan bersih yang tersedia setiap bulan setelah memperhitungkan potongan rutin. 

Jika Anda dan pasangan sama-sama bekerja, jangan langsung menganggap seluruh penghasilan gabungan bisa dialokasikan untuk cicilan rumah. Ada kebutuhan sehari-hari, transportasi, tagihan, tanggungan keluarga, dan tujuan keuangan lain yang tetap harus dipenuhi. 

Sebaliknya, jika berencana membeli rumah dengan mengandalkan satu penghasilan, pastikan penghasilan tersebut cukup untuk menanggung cicilan sekaligus pengeluaran rumah tangga lainnya. 

Sebagai contoh, pasangan dengan penghasilan gabungan Rp15 juta per bulan akan memiliki sisa uang yang berbeda, tergantung pengeluaran bulanannya. Jika pengeluaran Rp6 juta, sisa uangnya Rp9 juta. Namun, jika pengeluaran Rp10 juta, sisanya hanya Rp5 juta.

Meskipun penghasilan keduanya sama, sisa dana yang tersedia untuk membayar cicilan dan menabung tentu berbeda. 

Karena itu, sebelum mencari rumah, catat: 

  • Total penghasilan bersih bulanan. 

  • Pengeluaran rutin rumah tangga. 

  • Cicilan atau utang lain yang masih berjalan. 

  • Biaya transportasi dan kebutuhan pekerjaan. 

  • Tanggungan keluarga, jika ada. 

  • Alokasi tabungan dan dana darurat. 

Dari perhitungan tersebut, Anda dan pasangan bisa menentukan kisaran cicilan yang lebih realistis. 

Sebagai patokan awal, cicilan utang sering disarankan agar tidak melebihi sekitar 30% dari penghasilan bulanan. Namun, angka ini bukan jaminan bahwa cicilan tersebut pasti aman untuk setiap rumah tangga. Pertimbangkan juga pengeluaran, tanggungan, dan ketentuan penilaian kredit dari bank. 

2. Jangan Menentukan Harga Rumah Hanya dari Penghasilan Gabungan 

Ketika kedua pasangan bekerja, total penghasilan yang lebih besar mungkin membuat pilihan rumah terasa lebih luas. Namun, penting untuk membedakan antara harga rumah yang bisa diajukan pembiayaannya dan harga rumah yang nyaman untuk dijalani. 

Bank memiliki kriteria sendiri dalam menilai pengajuan KPR. Persetujuan pembiayaan dan jumlah pinjaman yang diberikan juga bergantung pada faktor seperti penghasilan, riwayat kredit, kewajiban yang sedang berjalan, serta kebijakan bank. 

Di sisi lain, pasangan tetap perlu membuat perhitungan berdasarkan kondisi keuangan rumah tangga sendiri. 

Coba lakukan simulasi untuk dua skenario berikut: 

Skenario A: Mengandalkan satu penghasilan 

Hitung apakah penghasilan yang dipilih cukup untuk membayar cicilan rumah, memenuhi kebutuhan rutin, dan menyisihkan dana untuk tabungan serta kebutuhan tak terduga. 

Skenario B: Menggabungkan dua penghasilan 

Hitung kemampuan cicilan berdasarkan penghasilan gabungan, lalu periksa apakah pengeluaran tetap bisa terpenuhi jika salah satu penghasilan berkurang atau terhenti sementara. 

Perbandingan ini membantu Anda memahami seberapa besar komitmen yang sebenarnya sanggup ditanggung. 

Jangan sampai rumah yang dipilih hanya terasa terjangkau ketika kedua penghasilan masuk secara penuh setiap bulan, tanpa ruang untuk menghadapi perubahan kondisi keuangan. 

3. Antisipasi Jika Salah Satu Penghasilan Berubah 

Penghasilan rumah tangga tidak selalu tetap sepanjang waktu. Salah satu pasangan mungkin berpindah pekerjaan, mengambil cuti panjang, menjalani pendidikan lanjutan, atau memutuskan untuk sementara tidak bekerja. 

Ada juga kemungkinan penghasilan berubah karena kondisi industri, kontrak kerja, atau usaha yang sedang dijalankan. 

Jika cicilan rumah sangat bergantung pada dua penghasilan, perubahan tersebut dapat memengaruhi kemampuan membayar cicilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Karena itu, sebelum membeli rumah, diskusikan beberapa kemungkinan bersama pasangan. 

Misalnya: 

  • Bagaimana jika salah satu pasangan kehilangan pekerjaan? 

  • Apakah cicilan tetap bisa dibayar jika penghasilan berkurang selama beberapa bulan? 

  • Berapa lama dana darurat dapat membantu menutup pengeluaran? 

  • Apakah ada pengeluaran yang bisa dikurangi sementara tanpa mengganggu kebutuhan pokok? 

Tidak semua risiko bisa diprediksi. Namun, memiliki rencana untuk menghadapi perubahan pendapatan dapat membantu pasangan mengambil keputusan dengan lebih tenang. 

Jika ingin mengukur kemampuan membayar cicilan dari satu penghasilan, gunakan skenario tersebut sebagai uji ketahanan keuangan. Bukan berarti pasangan harus selalu mampu membayar semua kebutuhan dari satu penghasilan, tetapi Anda bisa melihat seberapa besar ruang yang tersedia ketika kondisi berubah. 

4. Siapkan Dana Darurat Sebelum Mengambil Komitmen Cicilan 

Membeli rumah membutuhkan dana awal, tetapi jangan sampai seluruh tabungan habis untuk uang muka dan biaya transaksi. 

Setelah rumah dibeli, masih ada pengeluaran yang harus dipenuhi, mulai dari cicilan, listrik, air, kebutuhan rumah tangga, hingga perawatan bangunan. 

Dana darurat penting untuk membantu menghadapi kondisi yang tidak direncanakan, seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan, atau perbaikan rumah yang mendesak. 

Besarnya dana darurat perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga. Pasangan dengan tanggungan lebih banyak atau penghasilan yang tidak tetap mungkin membutuhkan cadangan lebih besar dibandingkan pasangan dengan penghasilan yang relatif stabil. 

Sebagai langkah awal, Anda bisa menghitung total pengeluaran wajib bulanan, kemudian menentukan target dana darurat berdasarkan kebutuhan dan tingkat risiko rumah tangga. 

Jika saat ini tabungan masih terbatas, pertimbangkan untuk menyesuaikan target harga rumah atau menunda pembelian sampai dana cadangan lebih memadai. 

Memiliki rumah memang penting, tetapi menjaga kemampuan untuk membayar kebutuhan hidup setelah rumah terbeli juga tidak kalah penting. 

5. Bicarakan Pembagian Tanggung Jawab Keuangan 

Membeli rumah bersama pasangan bukan hanya keputusan finansial, tetapi juga keputusan yang berkaitan dengan cara mengelola keuangan keluarga. 

Karena itu, penting untuk membicarakan pembagian tanggung jawab sejak awal. 

Jika kedua pasangan bekerja, apakah cicilan akan dibayar dari rekening bersama? Apakah penghasilan masing-masing akan digabung sepenuhnya atau tetap dikelola secara terpisah? Bagaimana pembagian biaya rumah tangga dan tabungan? 

Tidak ada satu pola yang harus diikuti semua pasangan. Yang penting, kedua pihak memahami kesepakatan yang dibuat dan merasa nyaman dengan pembagian tanggung jawab tersebut. 

Selain cicilan, diskusikan juga biaya lain seperti uang muka, biaya transaksi, furnitur, perawatan rumah, dan kebutuhan keluarga yang mungkin muncul di masa depan. 

Jika pembelian melibatkan KPR, pahami pula siapa yang akan menjadi pemohon atau pihak yang tercantum dalam perjanjian pembiayaan. Ketentuan pengajuan dan penggunaan penghasilan pasangan dapat berbeda sesuai kebijakan bank dan kondisi masing-masing. 

Pembicaraan ini sebaiknya dilakukan sebelum memilih rumah agar keputusan yang diambil benar-benar dipahami bersama. 

6. Sesuaikan Pilihan Rumah dengan Rencana Keluarga 

Kemampuan finansial bukan satu-satunya pertimbangan dalam memilih rumah. Kebutuhan keluarga juga berpengaruh terhadap tipe hunian dan kisaran harga yang sesuai. 

Misalnya, pasangan yang baru menikah mungkin membutuhkan dua kamar tidur dan area kerja. Beberapa tahun kemudian, kebutuhan tersebut bisa berubah seiring bertambahnya anggota keluarga atau perubahan pola kerja. 

Karena itu, jangan hanya memilih rumah berdasarkan batas maksimal cicilan. Pertimbangkan juga apakah luas bangunan, jumlah kamar, tata ruang, lokasi, dan lingkungan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. 

Jika membeli rumah menggunakan dua penghasilan, bukan berarti Anda harus memilih rumah dengan harga tertinggi yang bisa dijangkau. Anda tetap bisa mempertimbangkan rumah dengan harga lebih rendah agar memiliki ruang lebih besar untuk menabung, bepergian, atau merencanakan kebutuhan keluarga lainnya. 

Begitu pula jika mengandalkan satu penghasilan. Jangan langsung menganggap rumah yang lebih kecil atau lebih jauh sebagai satu-satunya pilihan. Bandingkan beberapa alternatif berdasarkan kebutuhan, akses, biaya, dan kondisi keuangan secara keseluruhan. 

Tujuannya adalah menemukan rumah yang bisa mendukung kehidupan keluarga tanpa membuat pengeluaran rutin terlalu membebani. 

7. Buat Simulasi Keuangan Sebelum Mencari Rumah 

Sebelum menghubungi developer atau menjadwalkan kunjungan, luangkan waktu untuk membuat simulasi keuangan bersama pasangan. 

Anda bisa mulai dengan tabel sederhana berikut. 

Komponen 

Hal yang Perlu Dihitung 

Penghasilan bersih 

Penghasilan yang diterima setiap bulan 

Pengeluaran rutin 

Kebutuhan rumah tangga, transportasi, tagihan, dan tanggungan 

Cicilan berjalan 

Utang atau kewajiban bulanan yang masih harus dibayar 

Kemampuan cicilan rumah 

Dana yang tersedia setelah kebutuhan utama diperhitungkan 

Dana awal pembelian 

Uang muka dan biaya transaksi yang relevan 

Dana darurat 

Cadangan untuk menghadapi kondisi tak terduga 

Skenario perubahan pendapatan 

Kemampuan keuangan jika salah satu penghasilan berkurang atau terhenti 

Setelah itu, bandingkan simulasi cicilan dari beberapa pilihan harga rumah dan skema KPR. 

Pastikan simulasi tersebut mencakup informasi yang relevan, seperti uang muka, jumlah pinjaman, jangka waktu, suku bunga, serta kemungkinan perubahan cicilan sesuai ketentuan produk pembiayaan. Minta penjelasan dari bank mengenai rincian biaya dan persyaratan yang berlaku. 

Jika sudah mengetahui kisaran anggaran yang realistis, proses mencari rumah akan menjadi lebih terarah. Anda bisa menyaring pilihan berdasarkan kemampuan finansial sebelum mempertimbangkan lokasi dan tipe hunian secara lebih detail. 

Jadi, Lebih Baik Membeli Rumah dengan Satu atau Dua Penghasilan? 

Keduanya bisa menjadi pilihan, bergantung pada kondisi keuangan dan rencana hidup Anda bersama pasangan. 

Mengandalkan satu penghasilan dapat membantu menguji kemampuan rumah tangga untuk menanggung cicilan dari sumber pendapatan yang lebih terbatas. Sementara itu, menggabungkan dua penghasilan dapat memperluas kapasitas keuangan, selama pengeluaran dan risiko perubahan pendapatan tetap diperhitungkan. 

Yang perlu dihindari adalah menentukan harga rumah hanya berdasarkan total penghasilan tanpa melihat kewajiban bulanan, kebutuhan keluarga, dana darurat, dan kemungkinan perubahan kondisi keuangan. 

Sebelum membeli, pastikan Anda dan pasangan sudah memiliki gambaran mengenai kisaran cicilan yang nyaman, dana awal yang tersedia, serta tanggung jawab keuangan yang akan dijalani bersama. 

Dengan persiapan tersebut, Anda bisa mencari rumah berdasarkan anggaran yang realistis, bukan sekadar batas maksimal pembiayaan. 

Sedang Merencanakan Rumah Pertama Bersama Pasangan? 

Jika Anda dan pasangan mulai mencari hunian di kawasan Depok dan Sawangan, H City Sawangan bisa menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan. 

Pelajari pilihan tipe rumah, sesuaikan dengan kebutuhan keluarga, dan bandingkan dengan anggaran yang sudah Anda siapkan. Anda juga dapat mengunjungi kawasan hunian untuk melihat langsung tata ruang dan lingkungan sebelum mengambil keputusan. 

Konsultasikan pilihan hunian Anda di H City Sawangan dan mulai rencanakan rumah pertama bersama pasangan.